Sejarah Palestina pra Islam


Palestina telah ditakdirkan oleh Allah SAW untuk menjadi tempat para Nabi dan Rasul yang membawa bendera monoteisme dan mengajak masyarakatnya untuk patuh kepada ajaran tersebut.

Dalam sejarah kunonya, Palestina telah menyaksikan berbagai model kepemimpinan dan kekuasaan oleh para Nabi dan penguasa lainnya.

Mereka harus menghadapi banyak peperangan sengit untuk menegakkan bendera kebenaran di atas tanah yang berkah ini.

Kota Palestina

Sebelum menyelam lebih jauh secara mendetil, kita wajib menandaskan fakta yang signifikan bahwa umat Islam meyakini semua Nabi dan menganggap bahwa seluruh warisan

mereka juga merupakan milik umat ini. Sebagaimana mereka juga meyakini bahwa ajaran Islam adalah ekstensi atau perpanjangan dari ajaran-ajaran para Nabi terdahulu sebelum datangnya Islam. Ajaran para nabi secara keseluruhan adalah ajaran yang juga diserukan oleh Muhammad SAW. Selanjutnya khazanah

pengalaman yang dilalui oleh seluruh nabi dalam dakwah untuk menegakkan kebenaran dan ibadah kepada Allah SWT tidaklah terpisah atau berbeda dari dakwah dan pengalaman-pengalaman umat Islam. Lihat ayat di bawah ini dari surat XVI :36 :

Artinya :

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan); “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Taghut) itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya). Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (An Nahl : 36)

Ini merupakan ajaran ke-Esaan yang diemban oleh setiap rasul. Ketika masyarakat tertentu menolak rasul mereka, ini berarti mereka telah menolak seluruh nabi. Renungkan apa yang Allah firmankan di dalam Al Qur’an : (S.XXVI : 105)

Artinya :

“Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.” (Asy Syu’ara : 105).

Allah berfirman : (S.XXVI : 123)

Artinya :

Kaum Aad telah mendustakan para rasul.

(Asy Syuara : 123)

Firman Allah : (S.XXVI :141)

Artinya : Kaum Samud telah mendustakan rasul-rasul.

(Asy Syuara : 141)

Firman Allah : (S.XXVI : 160),

Artinya : “Kaum Luth telah mendustakan rasul-rasul.” (Asy Syu’ara : 160)

Firman Allah : (S.XXVI : 176)

Artinya : “Penduduk Aikah telah mendustakan rasul-rasul.”

Dalam menghadapi klaim-klaim Yahudi kontemporer akan hak mereka di Palestina, banyak para sejarawan hanya terpaku sibuk dengan ilmu-ilmu arkeologi dan menyebutkan berbagai bangsa yang mendiami wilayah ini, memerintah, melewati dan berapa masa kekuasan masing-masing dari mereka di sana yang pada akhirnya hanya sampai pada kesimpulan bahwa masa di mana Yahudi berkuasa di sana sepanjang sejarah sangat singkat sekali dan terbatas pada wilayah-wilayah tertentu saja dibandingkan dengan bangsa Arab dan muslim.

Namun aspek ini sangatlah substansial untuk membantah klaim-klaim Yahudi dari aspek-aspek historis dan rasionalitas yang logis. Namun banyak para penulis dan ahli sejarah yang kelihatannya telah melakukan dua kesalahan besar di bawah ini :

1. Menisbahkan warisan para nabi yang telah diutus oleh Allah SWT kepada Bani Yahudi atau memimpin mereka sebagai suatu warisan yang khusus diberikan kepada mereka. Dan ini adalah hal yang benar-benar diinginkan oleh mereka!!

2. Menjelekkan biografi beberapa para nabi yang diutus kepada Bani Israel dengan menggunakan argumentasi yang berdasarkan kepada kitab Taurat yang diselewengkan. Ketika mereka menggunakan rasionalisasi ini, mereka bermaksud untuk menunjukkan “perilaku yang memalukan” keturunan Israel dan pemimpin mereka ketika menduduki Palestina. Ini dengan tujuan mendegradasikan makna negara dan untuk menjelaskan kemerosotan tingkat peradaban mereka. Para pengikut mazhab ini menggunakan argumentasi yang berdasarkan pada Israiliyyaat yang menuduh para nabi melakukan tipudaya, kebohongan, perzinaan dan pemerkosaan hak-hak serta pembunuhan orang-orang yang tak berdosa dalam upaya untuk membuktikan kekejaman, makar, kehinaan bangsa Yahudi dan untuk mendistorsi imej kekuasaan dan pemerintahan mereka pada waktu itu.

Al Qur’an telah cukup melengkapi kita dengan berbagai cara untuk mengidentifikasi tindak tanduk bangsa Yahudi dan mengingatkan kita akan kerusakan (debauchery) dan immoralitas mereka. Para nabi dan para pengikut mereka yang lurus adalah persoalan lain. Nabi-nabi adalah manusia terbaik. Mereka hendaknya untuk tidak didiskreditkan. Kita tidak boleh terpikat pada cerita-cerita Bani Israel yang tidak saja mejelekkan para nabi bahkan mereka juga menjelekkan Tuhan.

Sebagai contoh, Kitab Taurat dan Talmud yang telah dirubah (diselewengkan) mengatakan bahwa Tuhan (Yang Maha Tinggi, Mulia dan Agung) bermain dengan ikan paus dan ikan yang lain selama tiga jam tiap hari. Mereka juga mengatakan bahwa Dia menangis oleh karena pembumihangusan al haikal (rumah ibadah mereka seperti layaknya Sinagog) yang berakibat susutnya ukuran fisik-Nya dari tujuh surga menjadi empat. Gempa bumi dan angin ribut terjadi adalah sebagai akibat dari air mata Tuhan yang jatuh ke laut atas hancurnya al haikal tersebut. Klaim-klaim mereka ini disebutkan oleh Al Qur’an sebagai berikut : (5 :64)

Artinya : “Orang-orang Yahudi berkata : “Tangan Allah terbelenggu”, (Al Maidah : 64)

Firman Allah :(S.III : 181)

Artinya : “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan : Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya.” (Ali Imran : 181)

Sebagaimana Yahudi juga menisbatkan (mengilustrasikan) nabi Yakub kepada pencurian boneka yang terbuat dari emas dan ia juga yang berkelahi dengan Tuhan (!!) di dekat kota Nablus, maka dari itu ia dinamakan Israel. Selain itu ia juga dikatakan telah menawarkan suap kepada saudaranya, memperdayakan orang tuanya dan hanya berdiam diri terhadap tuduhan perzinaan kepada dua anak perempuannya. Ia telah berbuat syirik kepada Allah. Hal ini bisa dianalogikan dengan apa yang akan mereka perbuat dan katakan tentang nabi-nabi lainnya.

Yahudi telah jauh melenceng dari ajaran Taurat atau Perjanjian Lama. Mereka menapaki jalan Taurat yang sudah jauh keluar dari relnya sebagaimana terlihat dalam perilaku keseharian mereka, kesenangan melanggar kewajiban dan melakukan immoralitas dengan sikap terus bersikukuh akan apa yang mereka nisbatkan kepada nabi-nabi mereka. Dan ini tidak lain hanyalah bentuk kebohongan dan pemalsuan belaka. Para sejarawan, khususnya dari kalangan Islam, dalam mengkaji sejarah Palestina hendaknya tidak tergesa-gesa menuduh para nabi Allah dan rasul-Nya dengan apa yang difabrikasi (dibuat-buat) oleh Yahudi yang ini semua mereka lakukan hanya untuk membuktikan hak bangsa-bangsa lain atas bumi Palestina.

Kalau memang ikatan aqidah dan iman adalah dasar yang menyatukan umat Islam walau perbedaan bangsa dan warna, maka umat ini merupakan orang yang paling berhak dengan warisan para nabi termasuk di dalamnya para nabi Bani Israel. Karena umat ini yang masih tetap konsisten menjunjung tinggi bendera monoteisme yang dibawa oleh para nabi. Mareka adalah orang yang tetap menapaki jalan dan ajaran para nabi. Dan menurut pemahaman Al Qur’an para nabi adalah orang-orang yang berserah diri (muslimun) dan bersatu.

Lihat firman Allah SWT :

Artinya : “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” “Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.” (Ali Imran : 67-68)

Firman Allah :

Artinya : “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama ismail (seraya berdo’a) : “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah : 127)

Firman Allah :

Artinya : “Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (Al Baqarah : 130)

Secara umum umat yang menganut ketauhidan adalah umat yang satu, sejak dari nabi Adam A.S sampai masa Allah akan mewarisi bumi dan orang-orang yang berada di atasnya. Para nabi, rasul Allah dan pengikut-pengikut mereka adalah bagian dari umat tauhid. Dakwah Islam adalah perpanjangan dakwah mereka. Dan umat Islam adalah orang-orang yang paling berhak dengan nabi-nabi, rasul-rasul dan yang mewarisi mereka.

Khazanah tradisi para nabi merupakan khazanah kita, eksperimen mereka juga merupakan eksperimen muslim. Sejarah mereka adalah sejarah kita. Dan syariah yang diberikan Allah kepada para nabi dan pengikut mereka dalam memerintah wilayah yang berkah dan suci ini merupakan indikasi atas syariah, hak kita atas wilayah dan pemerintahannya.

Benar bahwa Allah telah memberikan tanah ini kepada Bani Israel di saat mereka berjalan dan mengikuti jalan Allah, di saat mereka menjadi representasi umat tauhid pada zaman yang lampau. Bukan kita malu untuk mengatakan fakta ini, kalau tidak demikian berarti kita telah mengingkari penjelasan Al Qur’an. Dari itu Musa berkata kepada kaumnya :

Artinya : “Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (Al Maidah : 21)

Kendati syariat ini terikat erat dengan seberapa jauh komitmen mereka kepada tauhid dan manhaj Allah. Maka ketika mereka ingkar kepada-Nya, berbuat dosa kepada rasul, membunuh para nabi, merusak seluruh janji-janji dan piagam-piagam mereka. Mereka menolak untuk mengikuti risalah Islam yang telah dikabarkan oleh para nabi kaum ini.

Sebagaimana tercantum di dalam Al Qur’an :

Artinya : “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka,” (Al A’raf : 157)

Artinya : “…dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” (Al Saff : 6)

Maka ketika mereka lakukan hal itu, mereka terkena laknat dan murka Allah SWT.

Artinya : “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu.” (Al Maidah : 113)

Allah berfirman :

Artinya : “Katakanlah : “Hai Ahli Kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?” (Al Maidah : 59)

Maka dari itu legitimasi atas pemerintahan tanah suci ini harus diberikan kepada umat yang tetap berjalan di atas jalan para nabi dan menjunjung tinggi bendera ajaran mereka yaitu umat Islam. Persoalan yang ada di dalam pemahaman kita bukan berhubungan dengan bangsa, keturunan dan kaum, namun lebih kepada loyalitas untuk mengikuti jalan dan manhaj ini.

Untuk melanjutkan diskusi sekitar klaim-klaim Yahudi akan hak mereka atas Palestina sesuai dengan nash-nash Taurat, kita coba melihat apa yang mereka sebutkan di dalam Taurat yang telah diselewengkan dengan keyakinan bahwa tanah tersebut telah diberikan kepada Ibrahim A.S. dan keturunannya.

Di antaranya sebagai berikut :

Artinya :

“Dan Tuhan berkata kepada Ibrahim : Pergilah dari tanahmu (wilayahmu), keluargamu, rumah orang tuamu ke tanah yang telah saya perlihatkan….maka pergilah ia sebagaimana telah Tuhan katakan…Maka mereka datang ke tanah Kan’aan…dan Tuhan dapat dilihat oleh Ibrahim dan berkata : Untuk keturunanmu aku berikan tanah ini”.

Dan di dalam Taurat berbunyi :

Artinya :

“(Ibrahim) mendiami tanah Kan’aan maka Tuhan berkata kepadanya : “Angkatlah kedua matamu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri ke arah Utara, Selatan, Timur dan Barat, karena seluruh tanah yang engkau saksikan itu telah aku berikan kepadamu dan untuk keturunanmu selama-lamanya”.

Ada lagi yang berbunyi sebagai berikut :

Artinya :

Tuhan dan Ibrahim menyepakati piagam yang berbunyi : Untuk keturunanmu aku berikan tanah ini yang membentang dari sungai Mesir hingga sungai Besar, sungai Eufrat”.

Untuk menjawab hal di atas –di luar pemahaman kita tentang persoalan ini dari dasarnya yang syar’i—kita katakan :

1- Kalau memang di sana ada perjanjian yang memberikan Ibrahim A.S dan keturunannya, maka keturunan beliau bukan hanya Bani Israel sendiri. Bangsa Arab al musta’ribah adalah keturunannya juga (anak-anak Ismail A.S) dan di antara mereka adalah Nabi Muhammad SAW.

2- Kalau memang persoalannya berkaitan erat dengan keturunan dan proses beranak pianak (tanaasul) maka indikasi-indikasi yang ada mensinyalir bahwa mayoritas bangsa Yahudi yang ada pada zaman kita dewasa ini bukanlah dari keturunan Ibrahim A.S. Hal itu dikarenakan kebanyakan Yahudi kontemporer adalah Yahudi yang berasal dari Al Khazar (daerah laut Kaspia) yang masuk ke dalam agama ini pada abad kesembilan dan sepuluh Masehi!!

3- Sesungguhnya Al Qur’an al Karim menjelaskan persoalan kepemimpinan nabi Iabrahim dan keturunannya dalam forma yang tidak membingungkan. Renungkanlah firman Allah SWT di bawah ini :

Artinya : “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman : “Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata : “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku Allah berfirman : “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.” (Al Baqarah : 124)

Maka ketika nabi Ibrahim meminta kepada Allah agar supaya kepemimpinan (al imaamah) juga dapat dipegang oleh keturunannya, lalu Allah menjelaskan kepadanya bahwa janji al imaamah kepada keturunannya tidak dapat diberikan kepada orang-orang yang dhalim. Artinya kedhaliman, kekafiran, upaya menghalangi menuju jalan Allah dan melakukan kerusakan di muka bumi adalah persoalan yang paling terbesar yang dilakukan oleh Bani Israel?!!

Adapun sesuatu yang berhubungan dengan klaim-klaim historis Yahudi, kita telah cukup banyak para ahli sejarah yang dapat menjawab dan mengkonter alegasi tersebut. Maka masa kekuasaan Islam di bumi Palestina merupakan masa yang paling terpanjang dalam sejarah. Dan bangsa-bangsa yang mendiaminya wilayah tersebut jauh sebelum kedatangan Yahudi tetap masih eksis di sana hingga sekarang. Imigrasi-imigrasi (hijrah-hijrah) bangsa Arab pra atau paska kemenangan Islam (al fath al Islami) adalah komponen-komponen yang membentuk bangsa Palestina dewasa ini dengan agama Islam, bahasa dan karakteristik Arab mereka.

Palestina Pada Zaman Kuno :

Manusia mendiami bumi Palestina sejak periode klasik dahulu kala. Di sana terdapat banyak peninggalan-peninggalan arkeologis yang dikategorikan kepada zaman Batu Klasik (Ancient Stone Age) (500 ribu –14 ribu S.M) dan zaman Batu Pertengahan (the middle Stone Age) (14 ribu – 8 ribu S.M). Secara singkat dapat dikatakan bahwa pada zaman itu di Palestina telah terdapat peradaban An Nathufiyyah yang dinisbatkan kepada gua-gua Al Natoof di sebelah utara Al Quds (Jerussalem sekarang). Bangsa An Natoof belum diketahui hingga sekarang. Peradaban mereka terkonsentrasi di wilayah pesisir, mereka hidup di dalam gua-gua seperti yang terdapat di gunung Al Karmel.

Pada zaman Batu Modern (8000 – 4500 S.M) kehidupan manusia di Palestina berubah menjadi lebih stabil, dari hanya mengumpulkan makanan berubah menjadi memproduksinya. Dan Jericho (Ariihaa) jelas memperlihatkan bukti-bukti pertama yang mengindikasikan akan adanya kehidupan yang stabil. Kota ini dianggap—hingga kini—sebagai kota yang paling tertua di dunia yang dibangun kira-kira pada tahun 8000 S.M.

Zaman Batu Perunggu (Brass Stone Age) membentang dari (4500 – 3300 S.M), telah ditemukan beberapa tempat peninggalan yang berperadaban yang kembali kepada zaman tersebut di wilayah Beer Sheba antara pegunungan Hebron (al kholil) dan Laut Mati serta pesisir Al Khudiera.

Permulaan Seribu Ketiga sebelum Maeshi, zaman ini punya kelebihan yang lain dengan muncul kekaisaran-kekaisaran kuno di timur, bersamaan dengan ini adanya keberhasilan prestasi tulis menulis dan dimulainya penulisan sejarah. Dan dari sini dimulainya zaman-zaman bersejarah di Palestina.

Periode yang membentang dari (3200 – 2000 S.M) dinamakan dengan Zaman Perunggu Kuno. Periode ini ditandai dengan munculnya banyak kota Berbenteng dan defensif yang dibangun di wilayah bukit yang tinggi. Mayoritasnya terletak di tengah dan Utara Palestina. Di antara tempat-tempat itu yang terpenting adalah Bashan, Mejideo, Al Afoula, Ras Al nakoura dan Tal Al Farei’a di sebelah utara Nablus. Dan pada tahun Seribu ketiga sebelum masehi penduduk Palestina terus bertambah dan perkotaannya juga berkembang sehingga ia memiliki kekuatan politis dan ekonomis yang mungkin dapat disebut dengan zaman “negara-kecil kota” (small-state of towns).

Pada tahun seribu ketiga sebelum Masehi, bangsa Ammonit, Kan’aan, Yabous dan Phoenisi (kedua terakhir ini dianggap sebagai sub-bangsa Kan’aan) berimigrasi ke tanah Palestina. Imigrasi mereka ini diperkirakan terjadi kira-kira pada tahun 2500 S.M. di mana bangsa Kan’aan menduduki wilayah pesisir, bangsa Ammonites terkonsentrasi di daerah dataran tinggi dan pegunungan, bangsa Yabousi mendiami wilayah Jerussalam (Al Quds) dan sekitarnya dan mereka yang membangun kota Al Quds. Mereka menamakan kota itu dengan “Yabous” kemudian “Ursaalem”. Adapun bangsa Phoenis, mereka mendiami daerah pesisir utara Palestina tepatnya di daerah Lebanon sekarang ini.

Para ahli sejarah yang dapat dipercaya memandang bahwa Ammonit, Kan’aan, Yabousi dan Phoenisi keluar mengembara dari jazirah Arab. Dan penduduk Palestina yang berwarna hitam sekarang ini—secara khusus orang-orang pedesaan—diperkirakan merupakan keturunan kabilah-kabilah dan bangsa-bangsa kuno tersebut atau dari bangsa Arab dam umat Islam yang menduduki wilayah ini paska kemenangan Islam.

Imigrasi bangsa Kan’aan pada waktu itu sangatlah besar jumlahnya hampir dapat dikatakan bahwa mereka akhirnya menjadi masyarakat asli di sana. Nama “tanah Kan’aan” (the land of Canaan) merupakan nama tertua yang bagi wilayah yang disebut Palestina dewasa ini. Mereka yang membangun sebagian besar kota-kota di Palestina, dan jumlahnya—sesuai dengan batas-batas wilayah Palestina dewasa ini—tidak kurang dari dua ratus kota pada tahun seribu kedua sebelum Masehi dan sebelum ratusan tahun kedatangan orang-orang Ibrani Yahudi. Di antara kota-kota tua selain Jericho dan Al Quds, kota Shechem (Balatah, Nablus) Bashan, Ashkelon, Akka, haifa, Hebron, Ashdod, A’aqur, Beer Sheba dan Bethlehem.

Kemudian datang periode Perunggu Pertengahan (1550 – 1200 S.M) pertengahan pertama dari tahun seribu kedua sebelum Masehi periode ini menyaksikan pemerintahan Hyksos, yang memerintah Palestina lebih kurang delapan belasan hingga enam belasan abad sebelum Masehi (18-16 S.M). Kelihatannya pada periode itu (kira-kira 1900 S.M) nabi Ibrahim A.S datang bersama dengan adiknya Luth A.S ke daerah Palestina. Di sana nabi Ismail, Ishak dan Yakub A.S dilahirkan.

Zaman Perunggu Terakhir (1550-1200 S.M) dimulai dengan keruntuhan kekuasaan Hyksos dan Palestina tunduk di bawah kekuasaan Mesir secara mutlak. Adapun zaman Besi (1200-330 S.M) dara permulaan (kira-kira 1200 S.M) kelihatannya Palestina menerima eksodus berbagai kelompok yang besar dari berbagai wilayah yang paling menonjol adalah imigrasinya “bangsa-bangsa pelaut”. Kelihatannya mereka datang dari wilayah Asia Barat dan dari pulau-pulau di laut Aegean (Crete dan lainnya). Pada mulanya bangsa-bangsa ini menyerang wilayah pesisir Syam dan Mesir, tapi Ramses III, Firaun Mesir dapat mengusir mereka dari wilayah ini di dalam pertempuran Blouziun (dekat pelabuhan Bur Said). Mereka diizinkan untuk mendiami bagian selatan wilayah Palestina. Dari inskripsi arkeolog dapat menemukan ukiran-ukiran dengan huruf-huruf “PLST”, dan menurut tulisan ini bahwa mereka adalah orang-orang yang disebut dengan “Palestian”. Kemudian ditambahkan huruf “N” kepada nama mereka (mungkin dianggap sebagai bentuk jamaknya) dan mereka disebut dengan Palestin. Bangsa Palestin ini telah membangun lima kerajaan yatiu kota-kota Ghaza, Ashdod, Jet, Aqroun dan Ashkelon. Kota-kota ini mungkin milik bangsa Kan’aan kuno namun mereeka telah meluaskan dan mengaturnya kemudian mendirikan dua kota baru yaitu Lod dan Saklash. Mereka dapat menguasai daerah pesisir yang tersisa hingga gunung Al Karmel. Sebagaimana mereka juga menguasai Marj bin Amir. Bangsa Palestin berbaur dengan bangsa Kan’aan secara cepat dan menggunakan bahasa mereka dan menyembah Tuhan-Tuhan mereka (Dajoun, B’al dan Ashtar). Kendati bangsa Palestin telah berasimilasi dengan penduduk setempat namun mereka telah memberikan wilayah ini dengan nama mereka sehingga terabadi namanya menjadi Palestina.

Dari bukti-bukti komparatif historis kelihatannya bahwa Musa A.S memimpin Bani Israel ke arah tanah yang suci ini pada pertengahan terakhir dari abad ke 13 S.M atau masa akhir zaman Perunggu Terakhir di mana permulaan zaman Besi merupakan zaman masuknya bangsa Yahudi ke Palestina. Kemudian berdirinya kerajaan nabi Daud dan Sulaiman A.S pada tahun 1004-923 S.M yang terbagi menjadi keeerajaan Israel (tahun 923-722 S.M) dan kerajaan Yahuda (pada tahun 923-586 S.M) yang masing-masing menguasai sebagian kecil dari wilayah tanah Palestina. Dan sejak tahun 730 S.M, Palestina secara umum tunduk di bawah kekuasaan Assyrian yang datang dari wilayah Iraq hingga tahun 645 S.M kemudian kekuasaan ini diwarisi oleh orang Babilonia samapi tahun 539 S.M. Bangsa Assyria dan Babilonia bergantian kekuasaan atas wilayah Palestina dengan Mesir. Kemudian sesungguhnya Parsi menyerang palestina dan memerintah di sana dari tahun 539-332 S.M. Palestina kemudian memasuki zaman Helenisia Yunani yang dikuasai oleh Ptolemaik hinggal tahun 198 S.M dan diikuti oleh Seleusias hingga tahun 64 S.M, periode di mana Romawi datang dan mendominasi wilayah Palestina. Setelah pecahnya kekaisaran Romawi, Palestina tetap berada di bawah naungan kekuasaan kekaisaran Romawi Timur “Kekaisaran Romawi” di mana Konstantinopel menjadi ibukotanya hingga datangnya Al Fath al Islami (kemenangan Islam). Setelah itu Islam yang memberinya nuasa Arab dan yang Islami pada tahun 636 Masehi.

Seruan Kebenaran dan Perjalanan Para Nabi di Bumi Suci :

Nabi Ibrahim A.S merupakan nabi pertama yang kita ketahui bahwa mereka yang hidup di Palestina dan meninggal di sana. Ibrahim A.S adalah bapak para nabi dan di antara keturunannya yang menjadi nabi seperti Ishak, Yakkub, Yusuf, Ismail dan Muhammad (bagi mereka sebaik-baik selawat dan salam).

Nabi Ibrahim A.S –menurut apa yang terdapat pada studi arkeologi—dilahirkan di “Uur” di wilayah Iraq. Hidup di sana untuk waktu yang lama di mana ia menghancurkan patung-patung dan mengajak kaumnya kepada tauhid. Ia menghadapi Raja Namrud dengan bukti-bukti. Mereka berupaya untuk membakarnya sebagai siksaan baginya atau apa yang dikerjakan Ibrahim yang menghancurkan patung. Maka api yang dipergunakan untuk membakarnya dijadikan Allah dingin dan cara buat keselamatannya. Nabi Ibrahim berhijrah di jalan Allah bersama dengan kemenakannya Luth dan berkata :

Artinya : “Dan Ibrahim berkata : “Sesungguhnya aku pergia menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (Al Saffat : 99)

Kelihatannya bahwa Ibrahim pada awalnya berhijrah dan orang yang bersamanya ke wilayah Hurran (Al Raha) daerah yang berlokasi di wilayah selatan Turki dan utara Syria dewasa ini. Dari sana ia berhijrah ke tanah Kan’aan “Palestina”, Allah berfirman :

Artinya : “Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalain manusia.” (Al Anbiyaa : 71)

Menurut estimasi para ahli sejarah bahwa sesungguhnya kedatangannya di Palestina kira-kira pada tahun 1900 S.M. Sejarah ini menurut sejarah kuno Irak merupakan zaman “Uur ketiga” di mana Iraq diperintah oleh Samaritan. Ini juga merupakan permulaan zaman Babilonia kuno di mana unsur-unsur Semit yang datang dari jazirah Arab “Ammonites” mendominasi di sana.

Nabi Ibrahim A.S mendiami Shecehm dekat Nablus. Dari sana ia berpindah ke arah Ramallah dan Qud melewat Al Khalil kemudian dengan Beer Sheba di mana ia tinggal di sekitar sana untuk beberapa waktu. Kemudian pergi ke Mesir yang mungkin bertepatan dengan zaman keluarga ke sebelas atau dua belas dari Firaun Mesir. Ia kembali dari Mesir ditemani oleh Hajar yang merupakan hadiah dari pemimpin di sana untuknya. Disebutkan di dalam riwayat bahwa ia merupakan anak Firaun atau salah satu princess di sana. Kemudian ia kembali ke Palestina dan melalui bagian sebelah Ghaza di mana ia bertemu dengan Abu Malek, pangeran Ghaza. Ia berjalan-jalan antara Beer Sheba dan Hebron, lalu naik ke Al Quds. Adapun Luth A.S berpindah ke Selatan Laut Mati di mana ia diutus menjadi Rasul untuk penduduk wilayah tersebut. Sementara Ibrahim tetap tinggal di daerah pegunungan Al Quds dan Hebron. Nabi Ibrahim (alaihissalam) mendapatkan anak yang lahir dari isterinya Hajar. Kemudian setelah tiga belas tahun ia diberi anak lagi yang bernama Ishak dari isterinya Sarah. Kelihatannya Ibrahim diberi anak-anak ketika di dalam usia yang sangat lanjut. Hal itu dapat kita ketahui dari firman Allah dari lisan Sarah :

Artinya : “Isterinya berkata : “Seungguhn mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?.” (Hud : 72)

Kelihatannnya nabi Ibrahim A.S datang dan pergi ke Hijaz lebih dari sekali. Maka ia mendatangkan Ismail dan ibunya Hajar ke kota Mekkah dan kisah upaya (sa’i) Hajar antara bukit Shofa dan Marwah dan memancarnya air zam-zam yang terkenal itu. Sesungguhnya Ibrahim kembali dan dengan ditemani oleh Ismail ia membangun Ka’bah sebagaimana firman Allah :

Artinya : “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo’a) : “ Ya tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah : 127)

Namun pusat kediaman Ibrahim tetap di Palestina dan di sana beliau meninggal dunia dan dimakamkan di gua Al Makfeelah di dekat kota Hebron, kota yang dinamakan dengan namanya. Disebutkan bahwa beliau meninggal dalam usia 175 tahun.

Nabi Ibrahim A.S pernah mengalami pemerintah penguasa Jerussalam “Malaki Shadeq” yang kelihatannya merupakan pengikut ajaran tauhid dan sahabatnya. Pada waktu itu orang-orang yang beriman kepada Allah sangatlah sedikit dan jarang sekali. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa nabi Ibrahim berkata kepada isterinya Sarah ketika mendatangi salah satu orang yang terkuat ketika itu : “Tidak ada orang yang beriman di muka bumi ini kecuali aku dan kamu”. Ini jelas terjadi ketika mereka berangkan ke Mesir yang dapat disimpulkan dari ayat di bawah ini :

Artinya : “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif.” (An Nahl : 120)

Yang penting sesungguhnya bapak para nabi Ibrahim al Khalil adalah seorang rasul yang tergolong dalam kelompok ulul ‘azmi (yang memiliki kemauan tinggi). Ia punya peranan dakwah dalam menyebarkan risalah ketauhidan di Palestina di mana ia mendirikan masjid-masjid dan membangun mihrab-mihrab untuk menyembah Allah di seetiap tempat ia pergi. Yang jelas bahwa ia tidak punya masalah atau halangan dari penduduk Palestina dan ia juga tidak dipaksa untuk meninggalkan wilayah tersebut karena agama dan dakwahnya. Namun ia tetap tinggal di sana berpindah dengan bebas sehingga Allah memanggilnya.

Adapun nabi Luth A.S, ia tinggal di selatan laut mati di mana beliau diutus kepada desa “sodom” dan mereka yang melakukan kekejian dengan jenis laki “sodomi”. Ia telah berupaya keras untuk melarang, namun mereka menentang dan sombong. Maka akhirnya Allah balas mereka dengan membalikkan desa mereka dan menghujamkannya ke bawah dan mereka dihujani dengan batu dari tanah liat dari neraka yang sangat panas :

Artinya : “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya : “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelumnya? Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan : “Usirlah mereka (luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini : Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutinya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” (An A’raf : 80-84)

Firman Allah :

Artinya : “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kamu Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. Yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.” (Hud : 82-83)

Al Quran menegaskan bahwa Ibrahim A.S mengalami kehidupan Luth dan kehancuran kaumnya. Para malaikat datang kepadanya dan memberinya berita gembira dengan Ishak dan menginformasikan kepadanya bahwa mereka dikirim untuk menghancurkan kaum Luth. Lalu ia berkata :

Artinya : “Berkata Ibrahim : “Sesungguhnya di kota itu ada Luth.” Para malaikat berkata : “Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya. Dai adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).” (Al Ankabut : 32)

Dan beginilah Allah memberikan pertolongan kepada hamba-Nya, Luth dan mensucikan tanahnya yang berkah :

Artinya : “Kota yang mengerjakan perbuatan keji.” (Al Anbiyaa : 74)

Dan nabi Ibrahim A.S mendapat berita gembira dengan Ishak agar orang setelahnya dapat membawa bendera tauhid dan menyebarkannya di atas tanah ini dan supaya penyebaran cahaya Ilahi terus berlanjut di sana.

Ishak hidup di bumi Palestina dan mendapat anak yang diberi nama Yakub A.S “Israel” yang menurut anggapan Yahudi merupakan bapak mereka. Ishak dan Yakub merupakan menara-menara menuju hidaya setelah nabi Ibrahim A.S. Lihat penjelasan Al Qur’an dalam keterangan singkat dan peringatannya :

Artinya : “Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang saleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami-lah mereka selalu menyembah.” (Al Anbiyaa : 72-73)

Nabi Yakub dilahirkan pada abad ke 18 S.M (kira-kira 1750 S.M) di palestina namun ia berimigrasi yang kelihatannya ke wilayah Hurran “Ar Rahaa”. Ia kawin di sana dan mendapat 11 anak yang di antaranya adalah Yusuf, tapi anaknya yang ke 12, Benyamin dilahirkan di tanah Kanaan “Palestina”. Nabi Yakub dan anak-anaknya kembali ke Palestina dan bermukin di Saar” dekat Hebron (Al Kholil). Kisahnya dan kisah anaknya Yusuf yang terkenal terdapat di dalam Al Qur’an secara terperinci. Kisah yang menceritakan konspirasi saudara-saudara Yusuf atas dirinya dan menjatuhkannya ke dalam sumur. Lalu ia ditemukan oleh kafilah dan menjualnya di Mesir. Di sana ia tumbuh menjadi dewasa dan berdo’a kepada Allah. Ia tegar menghadapi fitnah wanita dan bersabar di dalam penjara sehingga Allah memuliakannya untuk diletakkan di dalam golongan orang-orang petinggi Mesir setelah keberhasilannya mentakwil (interpretasikan) mimpi dan ketidakberdosaannya. Kemudian sesungguhnya Yusuf mengundang bapak dan saudara-saudaranya untuk datang ke Mesir di mana Allah kembalikan penglihatan Yakub setelah menderita kebutaan pada kedua matanya karena berpisah dengan Yusuf. Sebagaimana ia juga memaafkan kesalahan saudara-saudaranya. Sebagian riwayat mengatakan bahwa Yakub hidup di Mesir selamat 17 tahun namun ia dikubur dekat kakek Ibrahim dan bapaknya Ishak di Hebron.

Nampaknya periode kehidupan Yakub dan anak-anaknya di Mesir adalah zaman berkuasanya Hoksys di sana (1774 S.M-1567 S.M); kekuasaan mereka merupakan dua keluarga dari 15 dan 16 keluarga yang berkuasa di Mesir dan mereka bukanlah orang pribumi. Kendati demikian kelihatannya bahwa Yusuf dan saudara-saudaranya , anak-anak Yakub (Israel) menikmati kebebasan bekerja dan ibadah di Mesir dan mereka berperan dalam dakwah kepada tauhid. Namun hal ini tidak dapat berlanjut dan berubah pada generasi berikutnya. Bani Israel terperangkap dalam siksaan Firaun hingga akhirnya Allah SWT mengutus Musa A.S kepadanya untuk menyelamatkan kaum ini ke tanah Palestina.

Bani Israel setelah Musa A.S :

Bani Israel pada waktu itu adalah pengikut kebenaran dan pembawa bendera tauhid dan Firaun Mesir merupakan orang yang sombong dan congkak yang mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Ia melakukan kerusakan dan menyinksa Bani Israel dengan menyembelih anak-anak mereka dan tetap membiarkan anak-anak wanita :

Artinya : “Sesungguhnya Fai’aun telah berbuat sewenang-wenagn di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al Qasas : 4)

Nabi Musa dilahirkan dalam iklim seperti ini dan dididik dalam rumah Firaun dengan planning Allah (tadbiir rabbani) yang sangat sempurna. Dan kisah Musa, perkembangan masa kecilnya, dakwah beliau kepada Firaun dan keluarnya ia bersama Bani Israel serta kehancuran Fir’an merupakan kisah yang sudah sangat dikenal orang.

Sudah merupakan takdir Allah SWT untuk memberikan tanah Palestina di waktu itu kepada kelompok yang beriman kepada-Nya :

Artinya : “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang yang mewarisi (bumi), dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawartikan dari mereka itu.” (Al Qasas : 5-6)

Nabi Musa telah diutus kepada Fir’aun dengan perintah ini dengan dibantu oleh saudaranya Harun yang juga diutus sebagai seorang rasul :

Artinya : “Dan Musa berkata : “Hai Fir’aun, sesungghnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam, wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, meka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku.” (Al A’raf : 104-105)

Namun Firaun enggan dan bersikap sombong serta tidak mempercayai ayat-ayat dan mukjizat yang dibawa Musa. Para tukang sihir yang dikumpulkan oleh Firaun percaya kepada dakwah yang dibawa oleh Musa dan ingkar kepada Firaun. Namun kelihatannya mereka yang telah memperlihatkan keimanan mereka dan bergabung dengan Bani Israel terbatas dari pemuda-pemuda dari Bani Israel. Iman mereka bercampur dengan rasa takut yang mendalam kepada Firaun dan menghantui mereka yang mungkin akan menyiksa.

Artinya : “Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, malinkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir’aun dan pemuka-pemuka akumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir’aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas.” (Yunus : 83)

Kemudian Musa A.S memimpin orang-orang yang beriman di antara kaumnya menuju arah timur, maka mereka dikejar oleh Firaun dan bala tentaranya. Dan terjadilah kisah pembelahan laut dan akhirnya Allah selamatkan Bani Israel dan Firaun serta tentaranya dibinasakan di tengah laut.

Artinya : “Lalu Kami wahyukan kepada Musa : “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah sepertia gunung yang besar. Dan di sanalah kami dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu.” (Asy Syu’ara : 63-66)

Di sini kita berusaha untuk mencermati beberapa pendapat dan riwayat-riwayat yang bersifat sejarah yang muncul. Bahwa jumlah mereka yang keluar bersama Musa dari Mesir itu berkisar antara 6 ribu saja atau 15 ribu pada sebagai riwayat lainnya. Dari perspektif sejarah, peristiwa ini kelihatannya terjadi pada abad ketiga belas sebelum Masehi. Secara definitif bahwa hengkangnya bani Israel dari Mesir diperkirakan pada sepertiga terakhir dari abad itu. Periode di mana waktu itu Mesir dibawah kekuasaan “Ramses Dua” yang dikenal pada abad ini dengan sebut “Ramses Kedua”. Dengan kekuatan Allah SWT, jasad Firaun ini dapat disaksikan di salah satu museum Mesir. Dan ini yang mengingatkan kita akan firman Allah SWT :

Artinya : “Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagti orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (Yunus : 92)

Dan setelah Allah menyelamatkan Bani Israel, maka datanglah masa di mana Musa dan Harun harus menderita hidup bersama dengan mereka. Muncullah karakteristik-karakteristik mereka yang kurang baik yang timbul dari lemahnya iman, bodoh dan rasa takut. Setelah mampu menyeberangi laut, mereka langsung mendatangi masyarakat yang secara keseluruhan menyembah patung, mereka berkata :

Artinya : “Bani Israil berkata : “Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).” (Al A’raf : 138)

Kemudian ketika Musa pergi ke suatu tempat untuk bertemu Allah, kaumnya berubah menyembah anak sapi (al ‘ijl) kendati Harun tetap berada di sisi mereka.!!!

Artinya : “Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Tur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh bersuara.” (Al A’raf : 148)

Artinya : “Maka mereka berkata : “Inilah Tuahmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa.” (Thaha : 88)

Mereka hampir saja membunuh Harun ketika melarang kekafiran mereka ini dan ini yang dikatakannya kepada saudaranya Musa :

Artinya : “…sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku,” (Al A’raf : 150)

Dan banyak lagi sikap-sikap lain.

Kemudian Musa memimpin Bani Israel ke arah tanah suci dan berkata kepada mereka :

Artinya : “Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (Al Maidah : 21)

Namun mereka tetap saja bersikeras untuk memilih kemurtadan dan berpaling!!!

Artinya : “Mereka berkata : “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.” (Al Maidah : 22)

Nasehat sudah tidak bermanfaat, mereka tetap saja ingkar :

Artinya : “Mereka berkata : Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka da di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (Al Maidah : 24)

Sayed Qutub (Allah yarhamuhu) mengomentari sikap Bani israel ini dan berkata yang aKota Palestinartinya :

“Sesungguhnya tabiat ril orang Yahudi benar-benar termanifestasi di sini tanpa indikasi bahkan sedikit upaya untuk menyembunyikannya. Mereka merasakan bahwa bahaya memang dekat dan sekali mereka berkonfrontasi, maka tidak ada yang akan memproteksi mereka. Bahkan janji Allah kepada mereka bahwa mereka akan menjadi pemilik tanah dan Allah telah suratkan mereka untuk itu. Mereka inginkan itu tanpa biaya, tanpa usaha dan kemenangan yang mudah diberikan kepada mereka seperti Manna (hadiah yang mewah) dan salwaa (sejenis burung)…Dan begitulah para orang-orang penakut yang sudah tidak punya rasa malu, dan mereka takut dari marabahaya yang ada di depan mereka. Dan inilah kondisi ketidakberdayaan orang yang lemah yang tidak dibebani oleh insolensi lidah kecuali dengan kesombongan….”

Mereka berkata dalam firman Allah : “…dan berperanglah kamu berdua,” (Al Maidah : 24)

Allah tidak akan diakui menjadi Tuhan mereka kalau memang ketuhanannya akan menyuruh mereka untuk berperang!…

Dan menyudahi perkataan mereka dengan : “Sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (Al Maidah : 24)

Mereka tidak menghendaki kedaulatan, kebanggaan atau tanah yang dijanjikan karena hal tersebut menuntut mereka untuk harus memerangi orang-orang yang terlalu perkasa! Dan itulah perjalanan terakhir Musa A.S, akhir dan batas upaya keras yang luar biasa untuk mengarungi perjalanan yang jauh dan humiliasi yang berlanjut, malapetaka dan penyelewengan yang dilakukan oleh Bani Israel.”

Musa sangat menderita, ini yang mendorongnya untuk kembali kepada Tuhannya :

Artinya : “Berkata Musa : “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.” (Al Maidah : 25)

Dan Allah kabulkan permintaan nabi-Nya :

Artinya : “Allah berfirman : “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun. (Selama itu) mereka akan berputar-putara kebingungan di bumi (padang Tih) itu. Maka janglah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” (Al Maidah : 26)

Kemudian Allah mendekritkan bahwa mereka harus ditinggalkan untuk berkelana dalam kebingungan di tengah keganasan setelah mereka hampir berada di depan pintu-pintu tanah suci. Dan kelihatannya Allah telah mengharamkan generasi Bani Israel ini tidak diperbolehkan untuk melihat tanah sudi ini hingga generasi berikutnya dengan kekuatan yang tumbuh pada mereka dari kerasnya kehidupan padang pasir. Maka generasi ini “telah dirusak oleh kehinaan, perbudakan dan persekusi saat hidup di Mesir yang tidak cocok untuk sebuah kehidupan yang mulia ini.”

Musa A.S meninggal dunia sebelum dapat memasuki tanah yang suci dan di dalam hadist Rasulullah SAW yang muttafaq ‘alaihi yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah bahwa Rasulullah bersabda bahwa sesungguhnya nabi Musa ketika hendak menghembuskan nafas terakhirnya berkata :

“Ya Allah dekatkanlah aku kepada tanah suci hingga berjarak lemparan batu”.

Dan Rasulullah bersabda :

“Demi Allah! Kalau saja saya dekatnya saya akan memperlihatkan kepadamu tempat makamnya di samping jalan dekat bukit yang berwarna merah”.

Bani Israel memasuki Tanah Palestina :

Setelah generasi baru tumbuh dan bertahun-tahun perkelanaan dalam keganasan gurun pasir berakhir, bani Israel dipimpin oleh nabi mereka yaitu Joshua bin Noon, A.S. Yahudi memanggil mereka dengan Yashou”. Dia menggantikan Musa untuk memimpin mereka yang menyeberangi sungai Jordan bersama-sama pada tahun 1190 S.M. Lalu mereka dapat menaklukkan musuh-musuh mereka dan menduduki kota Jericho. Kemudian ia mengomando mereka untuk menginvasi A’ai, dekat Ramallah dan berusaha untuk menaklukkan Jerussalam namun usaha ini gagal karena jumlah Yahudi yang terlalu sedikit. Sehinggal hal ini tidak memungkinkan mereka untuk menyebar, menduduki dan mengontrol seluruh wilayah. Sesuatu yang kita ketahui tentang Joshua datang dari hadits Rasulullah SAW (selawat dan salam kepada beliau) yang mengatakan bahwa di saat Joshua berhadapan dengan musuhnya di medan pertempuran, peristiwa itu berlangsung hingga terbenamnya matahari. Ia berdoa kepada Allah agar supaya matahari tidak terbenam terlebih dahulu hingga peperangan itu usai dengan kemenangannya. Maka Allah kabulkan doanya dengan menunda matahari terbenam hingga Joshua memenangkan peperangan.

Kepemimpinan Yahudi setelah Joshua dipegang oleh para pemimpin yang dikenal dengan “para hakim” (judges). Periode mereka ini dikenal dengan “zaman para hakim” (the time of the judges) yang berlangsung lebih kurang 150 tahun. Kendati mereka berusaha keras untuk mereformasi kaum ini namun masa ini terus mengabadikan chaos, pemberontakan, malapetaka, perselisihan dan dekadensi moral serta agama secara umum pada generasi Bani Israel yang berlangsung lebih kurang 150 tahun. Ketika itu mereka berdiam di wilayah datang tinggi di sekitar kota Jerussalem (Al Quds) dan wilayah datar bagian selatan Palestina.

Di saat Bani Israel menyadari kondisi mereka yang kian memburuk, para pemimpin di antara mereka meminta kepada salah satu nabi (yang dipanggil Samuel) untuk menunjuk raja bagi mereka yang mungkin dapat memimpin untuk berperang di jalan Allah. Namun, nabi mereka, yang telah mengenal watak mereka :

Artinya : “(nabi mereka menjawab) : “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.” Mereka (menjawab) : “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?”. Maka ketika perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka.” (Al Baqarah : 246)

Nabi mereka mengatakan bahwa Tuhan telah menunjuk bagi mereka Talut sebagai raja. Tapi mereka menentang karena mereka : “Padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya.” (Al Baqarah : 247)

Bahwasanya dia : “Sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang banyak?”. (Al Baqarah : 246)

Nabi mereka berkata bahwa Tuhan telah memilihnya di atas kapasitas mereka dan diberi pengetahuan yang luas dan punya kekuatan fisik yang prima.

Talut, seorang pemimpin yang beriman kini memegang puncuk kepimpinan bani Israel yang berlangsung pada tahun 1025 S.M. Narasi-narasi Israel (Israiliyyaaat) menamakannya dengan “Shauel”. Allah menguji pengikut-pengikutnya; mereka diperintahkan untuk tidak meminum air dari aliran tertentu. Namun mereka gagal mematuhinya walau hanya dengan ujian yang sederhana itu :

“Kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku. Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka.” (Al Baqarah : 249)

Jumlah sedikit yang lulus di dalam ujian pertama itu tidak dapat melalui tes berikutnya dengan baik ketika mereka menyaksikan Jalut dan pasukannya. Lalu mereka berkata :

“Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” (Al Baqarah : 249)

Hanya sedikit sekali kelompok yang masih beriman dan berperang dengan gigih sampai akhirnya Allah berikan mereka kemenangan, di manan nabi Daud A.S –yang masih muda– dapat membunuh Jalut dalam peperangan ini dengan ketapel batu (senjata perang kuno).

Sejarah Talut tidak begitu jelas. Namun, narasi Israeliyaat menyebutkan bahwa sekitar tahun 1004 S.M, pasukan palestina mengalah Talut “ Shauel” di peperangan “Galobou”. Mereka dapat membunuh tiga bani ini, yang memaksanya untuk melakukan aksi bunuh diri, memotong kepalanya dan memaku badanya sebagaimana itu juga dilakukan oleh anak-anaknya pada dinding kota Bashan.

Bab baru dalam sejarah Bani Israel telah terbuka di bawah pemerintahan Daud A.S. Ia menggantikan Talut pada tahun 1004 S.M. Ajaran tauhid tersebat di seluruh wilayah tanah suci. Nabi Daud dianggap sebagai pendiri yang ril bagi kerajaan Bani Israel di palestina. Yahudi pada periode sebelum ini hanya dapat menguasai sebagian kecil wilayah Palestina dan terbatas sekali. Zaman yang disebut dengan “zaman para hakim” hanya berlalu dengan semaraknya peperangan sporadik antara kabilah-kabilah kecil. Setiap kabilah hampir tidak pernah dapat mempertahankan wilayah tanah yang telah diduduki. Nabi Daud A.S dilahirkan di Bethlehem. Kekuasaannya berlangsung 40 tahun dari kira-kira tahun 1400 S.M sapai 963 S.M. Pada awal mulainya, ibukota pemerintahannya adalah “Hebron” (Al Khalil), ia berdiam di sana selama 7 tahun. Jadi sekitar tahun 995 S.M ia menduduki Jerussalam dan memindahkan ibukotanya di sana. Ia mengerahkan seluruh balatentaranya untuk memerangi orang-orang yang tidak beriman in tanah suci ini hingga ia mampu untuk menaklukkan mereka pada tahun 990 S.M. Ia mampu untuk memaksa Damascus untuk membayar pajak tanah (land-taxes) dan menaklukkan Muabis, Edomis dan bangsa Ammonites. Pada periode itu, para pengikut ajatan tauhid untuk pertama kali dalam sejarah kala itu untuk mendominasi sebagian besar wilayah Palestina. Tapi, yang paling mungkin, bahwa tapal batas kerajaan Daud tidak terhubungkan dengan laut kecuali pada tempat dekat Yoya (Jaffa). Tapal batas kerajaan Israel pada puncak keemasannya berjarak dengan panjangnya 120 mil dan lebarnya 60 mil. Arealnya tidak lebih dari 1.200 mil persegi (square miles)—20 ribu km2 yang kira-kira 7 ribu km2, kurang dari wilayah Palestina yang ada sekarang.

Bangsa Yahudi mengontrol wilayah dataran tinggi, namun mereka gagal untuk menguasai wilayah-wilayah datar (plains) khususnya sebagian besar daerah pesisir Palestina yang merupakan bagian yang belum pernah dikuasai oleh kerajaan mereka sepanjang riwayatnya sama sekali.

Kalau memang Yahudi kontemporer berbangga dengan Daud A.S dan mengasumsikan diri mereka sebagai penggerek benderanya dan mewarisi kebesarannya. Tetapi sesungguhnya umat Islam menganggap diri mereka lebih berhak dengan Daud A.S dibanding dengan Bani Israel. Karena mereka mengimaninya sebagai nabi dari nabi-nabi Allah, mencintai dan menghormatinya. Mereka bangga dengannya karena ia telah berhasil mendirikan negara iman yang berdiri di atas fondasi tauhid di Palestina. Dan mereka adalah orang-orang yang kini berjalan di atas jalannya dengan membawa bendera tauhidnya setelah mengundurkan diri, menjadi kafir, menyekutukan Allah SWT dan mengingkari janji-janji mereka dengan Allah.

Kita ketahui dari Al Qur’an bahwa Allah SWT telah menganugerahkan kepada nabi Daud A.S suatu hikmah dan diturunkan kepadanya kitab suci Zabur. Ia juga diberikan kerajaan yang kuat. Bahwa gunung-gunung dan burung-burung bersama-samanya memuji dan berzikir kepada Allah ketika ia menyanyikannya dengan khusyu’ dan suaranya yang menyentuh : (S.XXXVIII :17-20)

Artinya : “…dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan). Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi, dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masingnya amat ta’at kepada Allah. Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.” (Saad : 17-20)

Firman Allah SWT : (S.XXXVIII ; 26)

Artinya : “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan jangnlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” (Saad : 26)

Allah telah berikan Daud mukjizat yang dapat melembutkan besi bagaikan lilin atau adonan yang dapat dibentuk sesuka hati tanpa harus dipanaskan di api. Walau ia diberikan kerajaan namun ia tetap saja kerja keras dan tidak memakan kecuali dari hasil jerih payahnya sendiri. Ia telah mengembangkan produksi persenjataan baju besi pada zamannya. Ketika baju besi ini telah jadi yang terbuat dari besi yang kuat, namun itu terlalu berat digerakkan oleh prajurit dan manuvernya terganggu. Kemudian Allah membimbing Daud untuk membuatnya dari rantai besi yang diikat satu sama lain. Itu tidak mengganggu manuver prajurit dan juga tidak memberi ruang panah untuk menembus.

Sebagaimana firman Allah : “Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah).” (Al Anbiyaa : 80)

Allah berfirman :

Artinya : “Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman) : “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ualgn bersama Daud”, dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhynya Aku melihat apa yang kamu kerjakan.” (Saba’ : 10-11)

Nabi Sulaiman A.s mewarisi bapaknya Daud dalam bidang ilmu, hikmah dan kenabian. Menurut riwayat-riwayat bahwa nabi Sulaiman tergolong dalam salah satu dari 19 anak Daud. Sulaiman dilahirkan di Jerussalem dan pemerintahannya di tanah yang berkah ini berlangsung sekitar 40 tahun (963-923 S.M).

Allah telah anugerahkan kepada Sulaiman kerajaan yang tidak pernah ada setelah itu. Allah telah jadikan bangsa jin tunduk berkhidmat kepadanya sebagaimana angin juga tunduk dibawah komandonya. Sulaiman terkenal dengan hikmah, keadilan, kekuatan dan kekuasaannya. Sebagaimana Allah telah ajarkan kepadanya bahasa bangsa burung dan binatang.

Tentu apa yang menjadi kelebihan nabi Sulaiman merupakan mukjizat rabbaniyyah yang dianugerahkan kepadanya sebagai bukti atas kenabiannya. Palestina telah dianugerahi dengan pemerintahan imani yang penuh dengan kemukjizatan yang didukung oleh balatentara jin, manusia, burung dan angin. Allah muliakan Sulaiman dengan mukjizat yang bisa mengalirkan tembaga yang dapat mengalir bagaikan mata air yang memercik dari bumi. Kerajaan ini telah menyaksikan dinamika pembangunan, kemajuan yang pesat sebagaimana kekuasaannya membentang sampai ke Sabaa di wilayah Yaman.

Kisah Sulaiman terdapat di dalam Al Qur’an dalam jumlah yang berkali-kali sebagai indikasi atas ilmu, kerajaan dan kenabiaannya. Firman Allah tentang nabi ini sebagai berikut :

Artinya : “Ia berkata : “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh juapun sesudahku, sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Pemberi”. Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya, dan (Kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan syaitan yang lain yang terikat dalam belenggu. Inilah anugerah Kami; maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) dengan tiada pertangungan jawab. Dan sesungguhnya dia mempunya kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.” (Saad : 35-40)

Allah berfirman :

Artinya : “Dan Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia berkata : “Hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan akmi diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata.” Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).” (Al Naml : 16-17)

Allah SWT berfirman : (S.XXXIV : 12-13)

Artinya : “Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. Para jin itu berbuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-ku yang berterima kasih.” (Saba’ : 12-13)

Allah SWT berfirman :

Artinya : “Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al Anbiyaa : 81)

Dari hadits-hadits Rasulullah SAW dapat kita simpulkan bahwa nabi Sulaiman memiliki kekuatan fisik yang prima dan merupakan orang yang sangat menyenangi perang di jalan Allah serta beristeri banyak. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“قال سليمان : لأطوفن الليلة على تسعين، وفي رواية : بمئة امرأة، كلهن تأتي بفارس يجاهد في سبيل الله، فقال له الملك : قل إن شاء الله، فلم يقل ونسي فطاف عليهن، فلم تحمل منهم غلا امرأة واحدة جاءت بشق رجل، وأيم الذي نفس محمد بيده لو قال : إن شاء الله لجاهدوا في سبيل الله فرسانا أجمعون”

“Sulaiman berkata : pada waktu malam saya mesti keliling (menggilir) sembilan puluh isteri. Dan dalam riwayat : dengan seratus isteri. Masing-masing mereka didatangi oleh penunggang kuda yang berjihad di jalan Allah. Maka berkata kepadanya salah satu malaikat : Katakanlah insya Allah, namun ia tidak menyebutkannya dan lupa, ia berkeliling mendatangi isteri-isterinya. Maka tidak ada isterinya yang hamil kecuali satu saja dan itupun dengan susah payah. Dan demi yang berkuasa atas jiwa Muhammad kalau saja ia katakan : insya Allah niscaya mereka berjihad di jalan Allah dengan menunggang kuda semua.”

Kematian nabi Sulaiman merupakan tanda dari tanda-tanda Keagungan Allah SWT dan pelajaran bagi manusia dan jin bahwa bangsa jin itu tidaklah mengetahui sesuatu yang ghaib. Karena sesungguhnya nabi Sulaiman berdiri shalat dalam mihrab dalam posisi bersandar pada tongkatnya. Namun ia meninggal dalam keadaan seperti itu dalam waktu yang cukup lama sementara jin bekerja keras tanpa mengetahui kematiannya hingga akhirnya ulat-ulat kecil memakan tongkatnya. Akhirnya ia terjatuh ke tanah. Allah berfirman :

Artinya : “Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kamatiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.” (Saba’ : 14)

Advertisements

5 thoughts on “Sejarah Palestina pra Islam

  1. Pingback: sejarah daerah tapal kudaReferensi Sejarah | Referensi Sejarah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s