KEARIFAN BERFIKIR


“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al-Ahzab : 21)

Sederet kekerasan yang terjadi selama ini, baik antar individu, antar kelompok, maupun kekerasan antar ras dan golongan serta kekerasan antar agama, sepertinya bukanlah kekerasan yang terjadi secara kebetulan. Kekerasan tersebut muncul, justru karena pola pikir yang salah pada diri manusia, yang kemudian diaktualisasikan dalam bentuk tingkah laku yang amoral (tidak bermoral).

Hal inilah yang mungkin menjadi kekhawatiran Malaikat, ketika Allah hendak menciptakan Adam as. Untuk menjadi Khalifah di bumi. Firman Allah.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat, “sesungguhnya Aku hendak menjadikan Khalifah di muka bumi”. Mereka berkata, “mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau ?” Tuhan berfirman : “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al-Baqarah : 30)

Kemudian Allah memberikan akal kepada Adam untuk mampu berfikir dinamis dan profesional dalam memanfaatkan akalnya, akhirnya Malaikat setuju dengan maksud Allah tersebut.

Jadi diidentifikasi lebih jauh, ternyata Iblis tidak setuju dan menolak untuk diperintahkan sujud kepada Adam, inilah bentuk pengingkaran makhluk yang pertama kali. Penolakan ini didasarkan pada alasan bahwa dia (iblis) lebih baik dari pada Adam.

Proses yang terjadi ini menggambarkan bahwa Malaikat yang menghormati (dengan sujud) kepada Adam adalah termasuk golongan yang bukan al-kafirun. Sementara Iblis dengan kesombongan, telah merusak proses dialogis tersebut dengan dikeluarkannya ia dari surga oleh Allah swt.

Disinilah pentingnya pemanfaatan pola pikir, sebagai upaya untuk membahasakan sebuah kebenaran. Ketika proses membahasakan tersebut, terlah terkontaminasi dengan rasa sombong, ingin menang sendiri, merendahkan orang lain, maka ia tidak akan selamat dari murka Tuhan.

Rasulullah sendiri ketika akan membahasan firman Allah kepada para sahabat, harus merumuskan dan melembutkan bahasa. Kejernihan berfikir dan kearifan bahasa Rasulullah inilah, yang menjadikan beliau mampu merangkul para sahabat, hanya dengan kurun waktu 23 tahun.

Apakah kita bisa menjadi umat yang terbaik, yang mampu “berdiri” tegak dalam bingkai fikrah (pola pikir) yang luhur, umat yang mampu menyangga dan “membaca” kearifan orang lain ?.

Advertisements

6 thoughts on “KEARIFAN BERFIKIR

  1. Pingback: 7 Shadow Award dari Teman Teman Narablog « Rahasia Otak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s